Sejarah Masjid Al-Anwar di kelurahan Angke

/

Sejarah Masjid Al-Anwar atau Masjid Angke salah satu yang termasuk masjid berusia tua di Jakarta. Masjid  Angke ini letaknya ada di kelurahan angke, kecamatan Tambora Jakarta Selatan. Masjid ini di dirikan sekitar tahun 1761. Pada awalnya masjid ini memiliki ukuran 15 x 15 meter. Walau terbilang kecil dari pada ukuran masjid modern yang ada pada saat ini, tetapi tempat beribadah ini mempunyai ciri khas tersendiri. Ciri khas ini salah satunya ialah gabungan antara gaya arsitektur Belanda, China, Bali dan Jawa pada interior ataupun bagian luarnya.

Sejarah Masjid Al-Anwar di kelurahan Angke

Menurut cerita yang sudah ada, masjid ini di dirikan oleh masyarakat umat islam yang ada di Bali. Walaupun di bangun oleh orang Bali, tetapi arsitek yang mengerjakan desain masjid angke ini ialah seorang China. Gabungan antara gaya arsitektur Sekilas. Kalau kita perhatikan, masjid ini mempunyai unsur arsitektur China. Jendela dan juga teralisnya ini berbentuk bulat panjang dan tanpa di hiasi oleh ukiran. Dengan mimbar masjid ditaruh menempel dengan tembok.

Sejarah Masjid Al-Anwar di kelurahan Angke

Bentuk dari teralis dan jendela ini gabungan dari gaya Belanda. Tidak ketinggalan, tangga – tangga yang ada pada depan masjid ini pun bergaya ala-ala kolonial. Daun pintu masjid ini dihias dengan kusen yang berukir. Tidak ketinggalan pula, pada atas pintu masjid pun ada sebuah ukiran yang besar. Motif ukiran ini yang mengingatkan pada arsitektur rumah Belanda. Masjid ini mempunyai empat buah tiang besar yang mengingatkan pada bangunan tua peninggalan Belanda. Tiang-tiang ini berasal dari kayu jati. Yang paling menarik dari masjid Al-Anwar ini ialah model atap dari Masjid Angke. Atap ini dibuat dengan bentuk limasan dan bersusun dua. Dengan cungkup yang disesuaikan dengan arsitektur Jawa. Tetapi ada beberapa yang menganggap kalau atap masjid ini disesuaikan dengan arsitektur China.

Ujung atapnya sedikit melengkung ke atas, yang seperti pada gaya punggel di rumah-rumah Bali. Walau usia masjid ini sudah ratusan tahun. Tetapi renovasi masjid ini masih mempertahankan ciri aslinya. Lantai masjid al-anwar ini pun masih memakai tegel dengan ukuran 40 x 40 cm. Pada masjid ini pun ditemui batu nisan dari makam Islam. Tetapi unik dari batu nisan ini ditulis memakai aksara China. Untuk menghindari supaya tak hilang, pada saat ini batu nisan itu sudah di selamatkan dan di simpan ke dalam museum. Di sekitar pelataran masjid ada beberapa makam, salah satu dari makan itu ialah makam yang dipercayai para masyarakat setempat untuk tempat peristirahatan Pangeran Syarif Hamid Alkadrie dari Kesultanan Pontianak. Pada makam tersebut tertulis Pangeran Hamid meninggal pada usia 64 tahun sekitar tahun 1854. Pada tahun 1800-an dia dibuang ke Batavia oleh Belanda sebab memberontak.

Penulis ada informasi www.karpetmesjidroll.com murah terbaru di toko karpet karpetmesjidroll.com paling laris seIndonesia. Untuk Info lainnya bisa di dapatkan pada artikel terbaru selanjutnya dari website www.estadiojalisco.net. Website terdiri dari berbagai macam informasi, ada informasi otomotif, informasi olahraga, informasi bisnis, informasi kesehatan. Jadi jangan sampai terlewat semua berita yang ada di sini.